Menjadi Musyrifah adalah Sebuah Pilihan

Pelajaran pertama yang sangat berharga adalah menjadi musyrifah. Musyrifah itulah sebutan untuk pembimbing kamar. Ada yang mengatakan bahwa mereka adalah kakak terbaik. Santri pilihan. Mungkin tak berlaku untuk semua angkatan, namun tantangan pada setiap genarasi yang dibimbing tentu berbeda-beda. Satu hal yang pasti, selalu dituntut untuk bisa menjadi lebih dewasa. Berawal dari sebuah kekecewaan dan rencana yang tak terealisasikan. Ya itulah diriku beberapa tahun yang lalu, selalu memikirkan masa depan.Tidak mau kecewa dan dikecewakan. Juga tak mau kehilangan. Selalu dikelilingi harapan dan ekspektasi orang-orang.

Pada hari itu aku dan kedua orang tuaku sepakat untuk tidak melanjutkan pendidikanku di pesantren. Jauh sebelum ujian nasional berlangsung. Kukira saat itu adala sebuah keputusan final. Nyatanya adalah sebuah perguncangan. Segala rencana sudah kupersiapkan. Mulai dari plan a-z serta strategi agar aku tetap bisa berkembang dan produktif. Agar aku bisa mengikuti passion dan tetap menjadi anak baik sesuai harapan. Agar aku lulus dalam seleksi pendaftaran di SMA yang diinginkan. Namun, sebuah keputusan diambil secara sepihak.Surat keputusan untuk melanjutkan pendidikan di pesantren itu ditandatangani tanpa persetujuan. Entah mengapa orang tua ku berubah pikiran. Saat itu kesal dan kecewa menjadi satu. Rasanya aku sudah bersusah payah dan bekerja keras, namun tak ada artinya lagi. Mudah saja saat kamu ingin melanjutkan pendidikan di tempat yang sama, kamu tidak perlu mencetak goal yang banyak untuk mendapatkannya. Namun sebaliknya, semua akan terasa sia-sia jika kamu tau pada akhirnya akan sama saja.

Bersedih-sedih tak akan pernah menjadi solusi dari sebuah permasalahan. Sedih adalah emosi yang terkadang butuh dilampiaskan. diluapkan. Saat itu semua yang kusuka berubah menjadi kebencian. Hobiku merajut tak dilanjutkan. Aku berhenti memegang hakpen dan benang. Aku simpan dalam box dan  tak pernah kusentuh selain untuk dirapikan. Rasanya sakit, karena melihat rajutan membuatku mengingat akan mimpi yang tertunda. Setidaknya aku masih punya satu harapan, yaitu menggambar baju.

Berhari-hari kecewa, akhirnya aku mogok belajar. Aku membiarkan semuanya berlalu begitu saja. Ya, seperti kisah anak gadis yang baru tumbuh lainnya. Dalam hatiku berontak, namun, sesungguhnya tak bisa melakukan apa-apa. Tapi pikiran tetap tak bisa diam. Dia selalu bekerja dan melanglang buana. "aku harus segera menemukan alasan untuk tetap bertahan", pikirku kala itu. Dan momen yang pas karena untuk pertama kalinya ada pendaftaran sebagai seorang musyrifah. Karena biasanya musyrifah dipilih dan bukan sebaliknya mengajukan diri. Entah karena keputus asaan yang mendalam. Aku pikir, mungkin ini bisa menjadi salah satu pilihan dan memberiku sedikit waktu untuk bisa menerima. Aku yakin banyak hal yang bisa kupelajari. Setidaknya aku bisa melihat tingkah lucu adik-adik yang baru mengenal pesantren. Dan itu lebih dari cukup untuk membuatku merasa bahagia.

Ya untuk pertama kalinya aku melakukan hal nekat dan tak terencana. Masa bodoh dengan masa depan. Tak peduli resiko dan konsekuensi yang akan datang. Lupa bahwa kata 'bebas' seperti sebuah keniscayaan. Karena menjadi musyrifah adalah pilihan untuk menjadi seorang panutan, bukan hanya seorang kakak maupun teman. Didalamnya penuh tanggung jawab dan pengorbanan. Menuntut kesabaran juga perhatian. Lantas apakah aku menyesal? sama sekali tidak. Justru aku sangat senang dan berterima kasih karena pernah melaluinya dengan baik. Serta selalu bangga dengan anak didik ku. Mereka bertumbuh dan berkembang dengan baik

Sebenernya butuh lebih dari satu alasan bagiku untuk bisa mengambil keputusan besar. Alasan lainnya adalah karena aku ingin belajar dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Aku terlalu sering merenung dan bersedih. Melihat banyak kekurangan dalam diri. Namun, bukan tanpa kemauan dan usaha. Karena aku selalu berharap dikemudian hari kekurangan bukanlah hambatan untuk mencapai tujuan. Dan semuanya terbukti ketika aku menjadi musyrifah.

Hal yang paling kuingat saat pertama kali menjadi musyrifah adalah suaraku hilang ketika memberikan arahan pertama di kamar. Ya, aku masih terlalu gugup saat itu, sampai-sampai suaraku tak bisa terdengar sama sekali. Susah payah, akhirnya aku menyerah. Dan keesokan paginya mencoba membantu dan menjelaskan arahan sebelumnya kepada adik-adik satu persatu. Konyol memang, tapi begitulah adanya. Sampai akhirnya aku mulai terbiasa dan bisa berkomunikasi dengan baik. Selain itu, Shafa yang terkenal jutek seketika berubah menjadi ramah karena tuntutan peran. Awalnya sulit untuk tersenyum saat disapa orang yang bahkan tak dikenal. Tapi apa boleh buat? semua berawal dari tuntutan peran hingga menjadi sebuah kebiasaan. Bagian paling sulit adalah menjadi peka dan perhatian. Awalnya aku bingung dalammenghadapi orang yang menangis. Gak tau gimana caranya merawat orang yang sakit. Bahkan mungkin saat itu aku terlalu tegas dan kurang berperasaan. Namun, perlahan aku mulai belajar dan memperhatikan keadaan. Memperhatikan karakteristik setiap anak selama di kamar. Belajar melerai permasalahan dan menenangkan hati-hati yang resah. Menjadi tempat untuk berkeluh kesah dan memberi arah. 

Kuharap aku sudah cukup dewasa saat itu. Nyatanya masalah tak bisa bisa ditinggalkan begitu saja. Saat itu aku belum menyadari bahwa aku sedang mengalami stress berat. Dengan gejala rambut rontok tanpa sebab dan jumlahnya cukup banyak. Bahkan ketika baru sebentar berbaring di lantai. Semua nilai eksak ku anjlok. Remedial dan nilai merah dimana-mana. Sayangnya, aku masih belum cukup peduli saat itu. Selalu berdalih untuk menyembuhkan hati dan tidak menerima kenyataan. Kadang bersikap kekanak-kanakan membuatku merasa sedikit tenang. Namun tetap tak akan bertahan lama. Tapi, ketika kembali ke kamar smuanya terasa lega. Karena setiap hari melihat tingkah konyol anak-anak dan melihat mereka bertumbuh. Lambat laun aku pun belajar dari mereka, bahwa aku juga butuh berjuang dan bertahan.


0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram