Melihat tingkah manusia yang beragam dan sangat unik membuatku seringkali tertawa. Namun, tak semuanya beranggapan begitu. Tingkah aneh nan konyol seringkali membuat mereka dipandang sebelah mata. Seolah-olah ia lebih rendah atau tak menghargai suatu hal. Padahal tak seperti itu. Dia hanya ingin menikmati hidupnya dan mencairkan suasana.
Apa kamu tahu apa yang mereka rasakan?
Percayalah terkadang mereka melakukan hal-hal konyol untuk melepas beban di pundaknya. Tak sepenuhnya dilepas, namun cukup meringankannya. Percayalah dibalik wajahnya dia selalu membawa beban yang berat dan tak semua orang mengetahuinya. Namun, ia memilih untuk bertingkah dan membuat orang-orang di sekitarnya tertawa. Dia memilih untuk meluapkannya dengan cara seperti itu. Ya, mereka lebih memilih hal itu dibanding terdiam dan termenung. Mungkin baginya bertingkah konyol adalah suatu hal yang melegakan. Dan terkadang kita memang perlu mencobanya.
Kalau kamu mengira mereka tak pernah serius, kamu salah. Mereka serius dengan masalahnya. Hanya saja, bukan tidak ditunjukan pada dunia bahwa mereka bermasalah. Ini tentang bagaimana kamu yang serius dapat mengerti mereka yang memilih untuk menjadi konyol. Jangan salahkan ketika kamu tidak bisa ikut tersenyum dan tertawa. Karena kamu pun punya pilihan hidupmu sendiri. Prinsip hidup yang selalu kamu bawa. Akan tetapi, pahamilah bahwa tak semua orang sama. Tak semua orang memilih untuk selalu serius dan tegang dalam menghadapi segala sesuatu. Tak semua orang mau menghabiskan waktunya untuk berpusing-pusing dengan masalah yang telah berlalu. Dengan setiap masalah yang harus dihadapi. Tak semua orang se-serius itu. Jangan terlalu keras pada dirimu dan orang-orang di sekitarmu. Karena kamu tidak bisa memaksakan semua orang menjadi seperti dirimu.
Memulai hidup yang baru terkadang tak benar-benar terlihat seperti membuka lembaran baru dalam buku. Tak pula terlihat seperti mengambil kertas kosong yang berada di antara tumpukan tugasmu. Tak pernah semudah itu. Memulai kehidupan baru bukan berarti melupakan hal yang sudah lalu. Tapi justru menyimpan memori yang lalu di buku yang berbeda atau mungkin di buku yang sama dalam bab yang berbeda. Layaknya menulis di kertas kosong, memulainya tak pernah semudah itu. Walaupun tidak mudah, apa salahnya untuk dicoba?
Awalnya memang kosong, namun perlahan-lahan seiring berjalannya waktu dapat terisi dengan baik. Dari satu titik menuju satu garis dan memenuhi satu kertas. Begitu pun dengan hidup. Perlahan namun pasti kertas itu satu persatu terisi dan terkumpul menjadi satu bab kemudian menjadi satu buku.
Lantas kapan seharusnya kita memulai lembaran baru itu?
Setelah beribu-ribu kejadian dan perasaan yang telah lalu, akhirnya kita bisa memahami kapan waktu yang tepat untuk membuka lembaran-lembaran baru. Mungkin karena lembaran itu sudah terlalu penuh. Sesak dan tak lagi bisa menampung kisah hidupmu.
Tak selalu menunggu momen berharga dalam hidup, kamu bisa melakukannya kapan saja. Sesuai dengan keinginanmu. Tak harus menunggu kamu lulus SMA, kuliah, ataupun menikah. Jika kamu merasa ceritamu perlu diakhiri, maka akhirilah. Akhirilah dengan baik, kemudian mulai tata hidupmu kembali. Luangkan waktu untuk bernapas dan berpikir sejenak. Sebelum akhirnya kamu mulai kembali ceritamu. Ceritamu yang baru. Layaknya novel yg selalu dibaca, setiap cerita pasti memiliki konflik atau masalah yg harus dihadapi. Tak perlu dalam satu buku, bahkan setiap bab nya pasti memiliki konflik tersendiri.
Berhenti dan coba resapi
Perkara meminta maaf dan memaafkan bukanlah hal yang mudah. Memang terdengar sederhana, namun nyatanya cukup berat untuk dilaksanakan. Ironisnya, ada mereka yang mudah untuk mengatakan maaf tapi nyatanya tidak benar-benar melakukannya. Mereka tetap saja melakukan kesalahan yang sama berulangkali tanpa penyesalan. Maaf bagaikan kata yg ringan diucapkan dan hanya sebagai formalitas semata. Ada pula mereka yang sulit memaafkan, baik diri sendiri maupun orang lain. Betapa sedih hidupnya karena dibayang-bayangi dengan rasa bersalah. Mungkin memang sulit menerima apa yang sudah terjadi, tapi apa salahnya untuk mencoba? Menerima bahwa kesalahan itu umum terjadi. Bahwa tak pernah ada yg sempurna di dunia ini. Melepaskan serta merelakan perasaan buruk yang selalu menyelimuti.
Terkadang, kamu mudah memaafkan orang lain tapi membuat pengecualian pada dirimu sendiri. Melupakan toleransi. Melupakan rasa berterimakasih pada diri sendiri. Kemudian menghukum serta menghakiminya. Lihatlah, betapa sedih diri itu karena tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan dan membela. Karena apa? Karena diri itu adalah dirimu. Dan yg memiliki kendali penuh adalah kamu sendiri. Bukankah terkesan jahat? Kamu bisa memaafkan orang lain dan memberikan toleransi, sedangkan pada dirimu sendiri tidak.
Maka mulai hari ini jadilah pemaaf yg baik. Meminta maaf dengan hati dengan sungguh-sungguh dan berusaha tidak mengulangi kesalahan yg sama. Kemudian maafkanlah dirimu dan orang-orang di sekitarmu. Jalin komunikasi yg baik. Tidak ada hal yg tak dapat dibicarakan. Berikanlah toleransi, jika itu diperlukan. Terakhir, jangan membuat pengecualian pada siapapun termasuk dirimu sendiri.
Ini bukan akhirnya
Awal bulan Juli 2024, setelah perenungan panjang. Mencoba memahami sinyal dari alam semesta. Dalam hatiku berkata lirih, "tanda apakah ini ya Tuhan? Kau ingin membawaku kemana?". Bukan tentang bahtera yang terombang ambing di tengah lautan. Laut ini tenang, begitupun kapal yang mulai terlihat berdiam. "Wahai angin, kemanakah engkau ingin membawaku? Mengapa engkau begitu tenang?". Dan disaat itulah, aku merasa cemas. Tak terbiasa menghadapi ketenangan sejenak. Rasanya janggal sekali. Padahal sebenarnya baik-baik saja.
Kecemasan menyeruak ke sekujur kapal, membuatku mengambil tindakan acak. Andai kubi4sa melihatnya lebih cepat. Sayangnya, aku adalah nahkodanya. Banyak orang yang ku bawa dalam perjalanan ini. Tak hanya manusia, tanggung jawab lainnya untuk ku jaga hingga sampai tujuan pun harus segera ku cemaskan. Akankah tiba tepat pada waktunya?
Kecemasan ini membuatku lelah. Hingga angin perlahan bertiup dan berbisik padaku, "tenanglah.. pejamkan matamu sejenak dan kamu akan menemukan jawabannya." Sejenak ku memejamkan mata. Perlahan menghirup udara dan mendengarkan suara alam. Perlahan ingatanku satu persatu-satu mulai kembali. Mengingat kembali awal perjalanan ini. Bagaimana aku bisa memulainya dan berakhir diatas kapal ini.
Apakah ini pelarianku atau benar perjalanan demi tujuan yang pasti?
Lalu aku mulai menikmatinya. Sambil terpejam, aku menggali memori itu. Berenang dalam memori pikiran dan emosi. Mencari harta karun yang hilang dan terkubur amat dalam. Meski saat dibuka tak bercahaya, tapi harta karunku masih amat berharga. Aku pun tersadar kembali. Inilah waktunya, melanjutkan yang tertunda. Ini kesempatanmu, gunakanlah sebaik-baiknya.
Tenanglah sejenak.. nikmati hidupmu sekejap. Bersenang-senanglah dalam imajinasimu, dunia yang sempat kamu tinggali. Dan disinilah aku memulainya kembali.