Kehilangan selalu bisa menjadi ketakutan yang besar bagi semua orang. Ketika kita belum pernah merasakannya kita hanya berandai-andai bahwa seseorang di samping kita akan selalu berada disana selamanya. Namun, sayangnya setiap orang memiliki waktu yang berbeda untuk bisa bertahan. Semua orang hanya akan datang dan pergi. Kita tak pernah bisa membayangkan rasa kehilangan sebelum itu benar-benar terjadi. Dan satu hal yang penting, kita bukan Tuhan yang dapat menetapkan takdir tak terelakan.
Terkadang kita yang terlalu egois untuk memaksakan mereka tetap bertahan dan tinggal. Padahal, mereka sudah sangat kesakitan. Kita hanyalah manusia yang tak sepatutnya mengendalikan orang lain. Karena kita tak pernah tahu apa yang terbaik bagi mereka. Satu dua orang yang meninggalkanmu mungkin tak berarti apa-apa, selagi itu bukan orang yang selama ini kamu anggap penting. Namun, orang yang dekat dan selalu ada bahkan sampai kamu lupa bahwa mereka benar-benar tulus ada di sampingmu, merekalah yang akan membuatmu merasa bersalah serta meninggalkan penyesalan teramat dalam ketika pergi.
Ketakutan akan kesendirian seringkali menyelimuti diri. Hal itu sudah terjadi cukup lama dan terpendam dalam hati. Sehingga membuatku cukup menutup diri. Aku pernah berada di posisi sangat terpuruk. Dan tak kusangka itu merupakan dampak dari sebuah kehilangan. Aku selalu membujuk diri dengan kata-kata manis pencegah kesedihan berlebihan. Kemudian selalu berusaha realistis bahwa kehilangan tetap akan menghampiri. Namun, bagaimana caraku untuk menghadapinya suatu hari nanti? Sampai akhirnya hari itu pun benar-benar terjadi.
Pada 17 Juni 2021, berita itu datang dengan terlambat. Tak kusangka akan seperti ini jadinya. Suara speaker masjid terdengar lantang malam itu "... Telah berpulang ke rahmatullah saudara kita Muhammad Ihsan Rabbani..". Aku berharap salah dengar, tapi pengumuman itu diulang sebanyak tiga kali. Pupus sudah harapanku. Langit terasa runtuh malam itu. Hati terasa hancur berkeping-keping. Dan aku hanya bisa terduduk, menangis, dan berteriak histeris. Tak terima dengan segala keadaan yang terjadi. Ya, pada malam itu orang yang paling aku sayang telah berpulang. Padahal, aku sudah sangat sabar dan menantikannya pulang dari rumah sakit. Berharap kami bisa kembali berkumpul dan berdiskusi seperti biasanya. Bertanya, bertengkar, lalu tertawa. Aku merasa semuanya tak adil. Entah mengapa, aku selalu menjadi orang yang terlambat tahu tentang keadaannya. Baik saat di rumah sakit maupun sebelumnya. Aku sangat marah dan kesal saat itu. Karena tak pernah bertemu dengannya selama 3 bulan ia dirawat. Aku ingin sekali memeluknya, meringankan beban di pundak dan di kepalanya. Aku ingin selalu menjadi penyembuh baginya, penghibur serta pengurang rasa kesedihannya. Aku ingin selalu berada di sisinya. Oleh karena itu, aku sangat marah ketika aku tak disampingnya.
Tak pernah sekali pun dalam hidupku aku meninggalkannya, karena aku selalu ingin bersamanya. Tak pernah sekali pun aku mau melewatkan setiap perkembangan hidup yang dia lalui. Aku selalu melihatnya. Aku selalu ada di setiap fase kehidupannya, begitu pun sebaliknya. Sampai akhirnya musibah ini terjadi. Tak kusangka banyak hal dan momen berharga yang sudah kita lewati. Kemudian semakin dewasa, kami semakin disibukkan dengan dunianya sendiri. Mulai melupakan keberadaan satu sama lain, hingga dia memikul bebannya sendiri. Itu yang membuatku marah. Karena tak berada di sisinya ketika dia sedang sangat kesakitan. Ketika dia sangat ingin didengar. Ketika dia membutuhkanku. Satu keinginanku kala itu yang tak pernah bisa terwujud, memeluknya erat-erat dengan wajah tersenyum dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Hari-hari yang kulewati setelah itu menjadi kabur. Makanan terasa hambar. Pikiranku kosong sekali. Masa bodoh dengan planning yang sudah kubuat. Padahal saat itu seharusnya menjadi masa paling potensial bagiku untuk berkembang. Segala cara telah kulakukan untuk mengobati hati. Namun, tak cukup untuk membuatnya utuh kembali. Putus asa sudah menjadi makanan sehari-hari. Dan hobi hanya bisa menemaniku mengurung diri diiringi tangisan yang tak henti.
Di saat aku ingin kembali, nampaknya aku sudah asing dengan diri sendiri. Tak tahu siapa diri ini. Tak tahu apa yang bisa ku perbuat. Aku sepenuhnya kehilangan kepercayaan diri. Pesimis selalu menyelimuti. Ketika aku ingin berencana, aku selalu lupa bagaimana cara memulainya. Selalu merasa diri ini tak sanggup memikul beban itu lagi. Beban pikiran yang selama ini ku sembunyikan. Kakak selalu menjadi tempatku berbagi dan berdiskusi. Dia selalu bisa mendamaikan hati. Aku sangat kehilangan saat itu, karena dia selalu masuk dalam rencana hidupku. Masuk ke dalam tujuanku bertahan hingga saat ini. Hingga aku tak bisa berpikir untuk maju kembali.
Kuliahku tak karuan dan organisasi pun ikut berantakan. Aku berjalan layaknya seseorang dengan kaki yang pincang. Tak cukup dengan kepincangannya, ia pun harus memikul luka yang hanya bisa dipendam. Kemudian dihadapkan dengan masalah-masalah baru yang kadang tak masuk akal. Semuanya terasa begitu cepat dan dinamis. Namun, aku hanya bisa termangu seperti anak kecil yang memandangi kereta api lalu melintas dihadapannya dengan sangat cepat. Ingin rasanya mengatakan "tunggu aku". Namun, dalam hitungan detik kereta itu lewat begitu saja. Berharap semuanya akan kembali seperti semula. Nyatanya, semua sudah tak sama. Letih berpangku tangan, saatnya untuk kembali berdiri dan berpura-pura lupa. Kemudian mengatakan "aku baik-baik saja".
Butuh waktu cukup lama untuk menyadari bahwa diri ini bisa kembali kemudian berjalan seperti dulu lagi. Namun aku cukup bisa menerima dan memaafkan. Pesanku,
"Belajarlah untuk melepaskan mereka-mereka yang sudah tak di sampingmu lagi. Saat ini, dulu, maupun di masa yang akan datang. Kehilangan akan selalu siap menghampiri. Namun, siapkah kamu untuk menghadapinya walau kamu tahu dia akan datang lagi dan lagi? "